Jumat, 05 Juli 2013
Rumah Quran Indonesia: RAMADHAN BULAN QURÁN
Rumah Quran Indonesia: RAMADHAN BULAN QURÁN: R A MADH A N BULAN QUR’AN By Agus Talik S.Ag Bulan Romadhon juga disebut sebagai syahrul Qur’an,karena memang dalam bulan Romadhon i...
RAMADHAN BULAN QURÁN
RAMADHAN BULAN QUR’AN
By Agus Talik S.Ag
Bulan Romadhon
juga disebut sebagai syahrul Qur’an,karena memang dalam bulan Romadhon
interaksi umat Islam terhadap Al-Qur’an sangatlah dekat dan kuat.Selain membaca
Al-Qur’an kita juga disunahkan pula untuk mendengarkan Al-Qur’an.
Di dalam ajaran
Islam bukan hanya membaca Al-Qur’an saja yang menjadi ibadah dan amal yang
mendapat pahala dan rahmat,tetapi mendengarkan bacaan Al-Qur’an pun begitu
pula. Sebahagian ulama mengatakan bahwa mendengarkan orang membaca Al-Qur’an pahalanya sama dengan orang yang membacanya.
Tentang pahala
orang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan jelas dalam surat Al-“Arof : 204
disebut sebagai berikut :
“ Dan apabila
dibacakan Al-Qur’an maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang
agar kamu mendapat rahmat “
Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik
dapat menghibur perasaan sedih,menenangkan jiwa yang gelisah dan melunakkan
hati yang keras,serta mendatangkan petunjuk.Itulah yang dimaksudkandengan
rahmat Allah,yang diberikan kepada orang yang mendengarakan bacaan Al-Qur’an
dengan bai. Demikian besar mukjizat Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi yang tak
bosan-bosan orang membaca dan mendengarkannya. Malahan semakin sering orang
membaca dan mendengarkannya semakin terpikat hatinya kepada Al-Qur’an ; bila
Al-Qur’an dibaca dengan dengan lidah yang fasih dengan suara yang baik dan
merdu akan lebih memberi pengaruh kepada jiwa orang yang mendengarkannya dan
bertamah imannya. Bagaimana keadaan orang mukmin tatkala mendengarkan bacaan
Al-Qur’an itu digambarkan oleh Firman Allah SWT sebagai beriku :
“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman
itu,hanyalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan
apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka
karenanya dan kepada Tuhanlahmereka bertawakkal “
( QS. Al-Anfal : 2)
Diriwayatkan bahwa pada suatu malam Nabi
Muhammad SAW mendengarkan Abu Musa Al-‘Asy’ari
membaca Al-Qur’an sampai jauh malam. Sepulang beliau di rumah,beliau
ditanya oleh isteri beliau Aisyah r.a,apa sebab nya pulang sampai jauh
malam,Rasulullah SAW menjawab bahwa
beliau terpikat oleh kemerduan suara Abu Musa Al-‘Asy’ari r.a membaca Al-Qur’an seperti merdunya suara nabi
Daud a.s.
Di dalam riwayat banyak sekali
diceritakan betapa pengaruh bacaaan Al-Qir’an pada masa Rasulullah SAW terhadap hati orang-orang kafir yang setelah
mendengarkan bacaan Al-Qur’an itu tidak sedikit hati yang pada mulanya keras
dan marah kepada nabi Muhammad SAW serta pengikut-pengikutnya terbalik menjadi
lunak dan maumengikuti ajaran Islam.
Rasulullah SAW sendiri sangat gemar
mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari orang lain.Dalam sebuah hadits; yang
diriwayatkan sebagai berikut : Rasulullah berkata kepadaku : “ Hai Ibnu mas’ud
bacakanlah Al-Qur’an untukku !”, lalu aku menjawab : “apakah aku pula yang
membacanyakan Al-Qur’an untukmua ya Rasulullah,padahal Al-Qur’an itu diturunkan
Tuhan kepadamu?..”,Rasulullah menjawab : “ Aku senang mendengarkan bacaan
Al-Qur’an itudari orang lain :”.
Kemudian Ibnu Mas’ud membacakan beberapa
ayat dari surat An-Nisa,maka tatkala bacaan Ibnu Mas’ud itu sampai kepada ayat
41 yang berbunyi :
“ Maka bagaimanakah (halnya orang kafir
nanti) apabila Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul dan Nabi) dari tiap-tiap
umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu
(ummatmu)”.
Sedang ayat itu sangat mengharukan hati
Rasulullah,lalu beliau berkata: “ cukuplah sekian saja,ya Ibnu Mas’ud ! “, ibnu
Mas’ud melihat Rasulullah meneteskan air matanya serta menundukkan kepalanya.
Rabu, 03 Juli 2013
Bulan Ramdhan = Bulan Iman dan Perubahan
Bulan ramadhan = Bulan Iman dan Perubahan
By Ahmad Tachinardi
Segala puji hanya milik Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam atas pemuka para utusan, nabi Muhammad saw, beserta keluarga dan sahabat seluruhnya, selanjutnya…
Tidak lama lagi, bahkan beberapa saat lagi akan hadir ditengah kita tamu yang mulia dan bulan yang agung, yang selalu kita nantikan sepanjang tahun, kita nantikan sepanjang hari dan malam, untuk memperbaharui keimanan kita, memperkokoh semangat kita, menguatkan azimah, melepaskan beban keraguan dan kesulitan dunia, membersihkan kotoran-kotoran jiwa dan penyakit hati.
Allah SWT berfirman :
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ﴾
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Al-Baqoroh : 183). Taqwa kepada Allah adalah tujuan setiap muslim, harapan dari ibadah di bulan yang mulia ini, yang di dalamnya Allah mewajibkan puasa atas umat muslim yang berakal, baligh dan mampu, puasa adalah ibadah yang Allah mengumpulkan ganjaran dan pahalanya di akhirat, dan Allah SWT yang membalasnya langsung ganjarannya, dalam hadits qudsi Allah berfirman:
“كل عمل ابن آدم له إلا الصوم، فإنه لي وأنا أجزي به”.
“Setiap amalan anak cucu Adam miliknya kecuali puasa, dia adalah milik-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjarannya dengannya”.
Ramadhan adalah bulan Al-Quran, dan Al-Quran adalah dustur (undang-undang) umat yang kekal, barangsiapa berkata dengannya akan benar, barangsiapa yang berhukum dengannya akan adil, barangsiapa yang menyeru kepadanya akan diberikan petunjuk ke jalan yang lurus, dan barangsiapa yang mencari pada selainnya akan disesatkan Allah. Al-Quran adalah seperempat hati, cahaya mata, tali Allah yang kokoh, cahaya yang nyata, para salafus salih banyak berpegang teguh kepadanya sehingga mereka mampu mengisi dunia dengan adil dan rahmat, cahaya dan barakah, adapun umat sekarang banyak yang lepas darinya sehingga Allah memberikan kekuasan kepada mereka atas orang yang paling jahat, menghinakan mereka dan merampas kekayaaan mereka, menjajah negeri mereka dan mengisi dunia dengan kedzaliman dan kekejaman.
Senin, 24 Juni 2013
ASY-SYAJA’AH
Oleh
Ustad Agus Talik S.Ag
Asy-syaja’ah (keberanian) adalah salah satu ciri
yang dimiliki orang yang istiqamah di jalan Allah, selain ciri-ciri berupa al-ithmi’nan (ketenangan)
dan at-tafaul (optimisme).
Jadi orang yang istiqamah akan senantiasa berani, tenang dan optimis karena
yakin berada di jalan yang benar dan yakin pula akan dekatnya pertolongan Allah.
Namun memang tak mudah untuk menjadi orang yang
istiqamah atau teguh pendirian memegang nilai-nilai kebenaran dan senantiasa
berada di jalan Allah. Bahkan Rasulullah saw. mengatakan bahwa turunnya surat
Hud membuat beliau beruban karena di dalamnya ada ayat (QS. Huud [11]: 112) yang memerintahkan untuk beristiqamah,"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan
(juga) orang yang telah tobat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.
Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Rasulullah saw. memahami benar makna istiqamah yang sesungguhnya sampai ketika Abu Sufyan
bertanya hal terpenting apa dalam Islam yang membuatnya tak perlu bertanya lagi,
beliau menjawab, "Berimanlah kepada Allah dan kemudian beristiqamahlah (terhadap
yang kau imani tersebut)."
Di kesempatan lain, Rasulullah saw. juga mengatakan tantangan buat orang
yang istiqamah memegang Islam di akhir zaman, begitu berat laksana menggenggam
bara api.
Keberanian untuk tetap istiqamah walau nyawa taruhannya nampak pada diri
orang-orang beriman di dalam surat Al-Buruuj (QS. 85) yang dimasukkan
ke dalam parit dan dibakar oleh as-habul ukhdud hanya karena mereka menyatakan
keimanannya kepada Allah Taala.
Begitu pula Asiah, istri Firaun dan Masyitah, pelayan Firaun, kedua-duanya
harus menebus keimanan mereka kepada Allah dengan nyawa mereka. Asiah di tiang
penyiksaannya dan Masyitah di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya
karena mereka berdua tak sudi menuhankan Firaun.
Demikian sulitnya untuk mempertahankan keistiqamahan di jalan Allah, dan
demikian sulit pula untuk mewujudkan asy-syaja’ah sebagai salah satu aspeknya.
Secara manusiawi seseorang memang memiliki sifat khauf (takut)
sebagai lawan sifat asy-syaja’ah. Namun sifat khauf thabi’i (alamiah)
yang diadakan Allah di dalam diri manusia sebagai mekanisme pertahanan diri
seperti takut terbakar, tenggelam, terjatuh dimangsa binatang buas, harus berada
di bawah khauf syar’i yakni takut kepada Allah Taala. Hal tersebut secara
indah dan heroik terlihat gamblang pada kisah Nabi Musa a.s, Ibrahim a.s dan
Muhammad saw.
Rasa takut pada kemungkinan tenggelam ke laut merah teratasi oleh ketenangan,
optimisme dan keberanian Nabi Musa a.s yang senantiasa yakin Allah bersamanya
dan akan menunjukinya jalan. Dan benar saja Allah memberinya jalan keluar berupa
mukjizat berupa terbelahnya laut merah dengan pukulan tongkatnya sehingga bisa
dilalui oleh Nabi Musa dan pengikutnya. Kemudian laut itu menyatu kembali dan
menenggelamkan Firaun beserta tentaranya.
Kisah yang tak kalah mencengangkannya terlihat pada peristiwa pembakaran
Nabi Ibrahim a.s. Rasa takut thabi’i terhadap api dan terbakar olehnya teratasi
oleh rasa takut syar’i yakni takut kepada Allah saja. Dan subhanallah, pertolongan
Allah datang dengan perintah Nya kepada api agar menjadi dingin dan sejuk serta
menyelamatkan Nabi Ibrahim a.s.
Keberanian, ketawakalan dan kepasrahan pada Allah yang membuahkan pertolongan-Nya
juga terlihat pada saat Rasulullah Muhammad SAW bersama sahabat setianya Abu
Bakar Ash-Shidiq berada di gua Tsur untuk bersembunyi dalam rangka strategi
hijrah ke Yatsrib (Madinah).
Kaki-kaki musuh yang lalu lalang tidak menggetarkan Rasulullah dan ketika
Abu Bakar begitu mengkhawatirkan keselamatan Rasulullah SAW, beliau menenangkannya
dengan berkata, “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS
9: 40). Dan ternyata terbukti Allah Taala memberikan pertolongan melalui
makhluk-makhluk-Nya yang lain. Burung merpati yang secara kilat membuat sarang,
begitu pula laba-laba di mulut gua, membuat musyrikin Quraisy yang mengejar
yakin gua itu tak mungkin dilalui oleh manusia
MEMBACA
AL-QUR’AN
Oleh
Ustad Agus Talik S.Ag
Assamualaikum Wr.Wb
Al-Qur’an adalah
kitab suci yang merupakan sumber utama
dan pertama ajaran Islam,menjadi
petunjuk kehidupan umat manusia
diturunkan Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW sebagai salah satu rahmat yang
tak ada taranya bagi alam semesta. Didalamnya terkumpul wahyu Ilahi yang
menjadi prtunjuk,pedoman dan pelajaran bagi siapa yang mempercayainya serta
mengamalkannya. Al-Qur’an adalah kitab
suci yang terakhir diturunkan Allah SWT,
yang isinya mencangkup segala pokok-pokok syariat yang terdapat dalam
kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu setiap orang yang mempercayai Al-Qur’an akan bertambah cinta kepadanya,cinta untuk
membacanya dan mengajarkannya sampai merata rahmatnya dirasai dan dikecap oleh
penghuni alam semesta.
Setiap
mukmin yakin bahwa membaca Al-Qur’an saja sudah termasuk
amal yang sangat mulia dan akan mendapat pahala yang berlipat ganda,sebab yang
dibacanya itu adalah kitab suci. Al-Qur’an adalah sebaik-baik bacaan bagi orang
yang beriman, baik dikala senang maupun dikala susah,dikala gembira ataupun
dikala sedih. Malahan membaca Al-qur’an itu bukan saja menjadi amal dan ibadah
tetapi juga menjadi obat dan penawar bagi orang yang gelisah jiwanya.
Pada suatu ketika datanglah seseorang kepada
sahabat Rasulullah yang bernama Ibnu Mas’ud r.a ,meminta nasehat katanya : “wahai Ibnu mas’ud berilah nasehat
yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang gelisah. Dalam beberapa hari
ini aku merasa tidak tenteram,jiwaku gelisah dan fikiranku kusut,makan tak enak
tidurpun tak enak”.
Maka ibnu mas’ud
menasehatinya,katanya : “kalau penyakit
itu yang menimpamu maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat,yaitu ketempat
orang yang membaca Al-Qur’an ,engkau baca Al-Qur’an atau engkau dengar
baik-baik orang yang membacanya ; atau engkau pergi ke majelis pengajian yang
mengingatkan hatimu kepada Allah ; atau engkau cari waktu dan tempat yang sunyi
disana engkau berkhalwat menyembah Allah,umpama diwaktu tengah malam
buta,disaat orang sedangtidur nyenyak engkau bangun mengerjakan sholat malam
meminta dan memohon kepada Allah SWT ketenangan jiwa,ketentraman fikiran dan
kemurnian hati. Seandainya jiwamu belum juga
terobat dengan cara ini,engkau minta kepada Allah agar diberi-Nya hati
yang lain,sebab hati yang kamu pakai itu,bukan lagi hatimu “
Setelah orang
itu kembali kerumahnya,diamalkannya nasehat ibnu mas’ud r.a itu. Dia mengambil
air wudhu kemudian diambilnyaAl-Qur’an terus dia baca dengan hati yang
khusyu,selesai membacaAl-Qur’an
berubahlah kembali jiwanya menjadi jiwa yang tenang dan
tenteram,fikirannya jernih,kegelisahannya hilang sama sekali.
Tentang
keutamaan dan kelebihan membaca Al-Qur’an ,Rasulullah SAW menyatakan dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh bukhari dan Muslim yang maksudnya demikian
: “ Ada dua golongan manusia yang sungguh-sungguh orang dengki kepadanya,yaitu orang yang
diberi oleh Allah kitab suci Al-Qur’an ini,dibacanya siang dan malam, dan orang
yang dianugerahi Allah kekayaan harta,siang dan malam kekayaan itu digunakannya
untuk segala sesuatu yang diridhoi Allah “
Di dalam hadits
yang lain yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim pula Rasulullah SAW
menyatakan tentang kelebihan martabat dan keutamaan orang membaca
Al-Qur’an,demikian maksudnya : “ Perumpamaan orang Mukmin yang membacaAl-Qur’an
adalah seperti bunga utrujjah,baunya harum dan rasanya lezat, orang mukmin yang
tidak suka membaca Al-Qur’an adalah seperti buah korma, baunya tidak begitu
harum tapi manis rasanya, orang munafik yang membaca Al-Qur’an ibarat sekuntum
bunga berbau harum tetapi pahit rasanya, dan orang munafik yang tidak membaca
Al-Qur’an tak ubahnya seperti buah hanzalah,tidak berbau dan rasanya pahit
sekali”.
Dalam sebuah
hadits Rasulullah SAW juga menerangkan bagaimana besarnya rahmatAllah terhadap
orang-orang yang membaca Al-Qur’an di rumah-rumah Allah ( masjid,surau,mushola
dan lain-lain). Hal ini dikuatkan oleh sebuah hadits yang masyhur lagi shohih
yang artinya sebagai berikut : “ kepada kaum yang suka berjamaah di rumah-rumah
Allah membacaAl-Qur’an secara bergiliran
dan mengajarkannya terhadap sesamanya akan turunlah kepada ketenangan dan
ketentraman akan berlimpah kepadanya rahmat dan mereka akan dijaga oleh
malaikat,juga Allah akan selalu mengingat mereka ( diriwayatkan oleh muslim
dari abu hurairah )
Dengan hadits
diatas nyatalah bahwa membaca Al-Qur’an baik mengetahui artinya ataupun tidak
adalah termasuk ibadah,amal sholeh dan mmberi rahmat serta mamfaat bagi yang
melakukannya; juga memberi cahaya kepada keluarga rumah tanggatempat Al-Qur’an
itu dibaca.Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas r.a
,Rasulullah SAW bersabda : “ Hendaklah kamu beri nur/cahaya rumah tanggamu
dengan sholat dan dengan membaca Al-Qur’an”.
Didalam hadits
yang lain Rasululllah SAW menyatakan tentang membericahaya rumah tangga dengan
membaca Al-Qur’an itu. Dalam hadits yang diriwayatkan ole Daru Quthni dari Anas
r.a rasulullah SAW memerintahkan : “ perbanyaklah membaca Al-Qur’an dirumahmu
sesungguhnya di dalam rumah yang tak ada
orang membaca akan sedikit sekali dijumpai kebaikan dirumah itu,dan akan banyak
sekali kejahatan serta penghuninya selalu merasa sempitdan susah “.
Mengenai pahala
membaca Al-Qur’an , Ali bin Abi Tholib mengatakan bahwa tiap-tiap orang yang
membaca Al-qur’an dalam sholat akan mendapat pahala lima puluh kebaikan untuk
tiap-tiap huruf yang diucapkannya,membaca Al-qur’an diluar sholat dengan
berwudhu pahalanya dua puluh lima kali kebajikan bagi tiap-tiap huruf yang
diucapkannya dan membaca Al-Qur’an di luar sholat dengan tidak berwudhu
pahalanya sepuluh kebaikan bagi tiap-tiap huruf yang diucapkannya”...
Wassalamualaikum Wr.Wb
Jumat, 21 Juni 2013
MENJEMPUT
RAHMAT ALLAH SWT.
OLEH
USTAD
AGUS TALIK S.Ag
Dalam hidup ini,Allah SWT telah
memberikan kepada kita bekalan potensi yang harus digunakan secara optimal di
dalam mengarungi bahtera kehidupan sampai menuju akhirnya. Keinginan kita untuk
menggapai kehidupan yang baik serta akhirat yang baik dan terbebas dari siksa
api neraka merupakan target didalam mencapai akhir darikehidupan ini.
Sebagaimana doa kita yang dipanjatkan “ Robbanaa Aatina Fiddunya Hasanah wa Fil
Akhirooti Hasanah Waqiinaa ‘adzaa bannaar , Ya Allah bahagiakanlah Kami hidup
di dunia dan bahagiakanlah pula Kami di akhirat nanti dan jauhkanlah Kami dari
siksa Api neraka “.
Di dalam menggapai cita-cita
kebahagiaan tersebut, Allah SWT telah memberikan kepada kita berupa
Wahyu,Contoh Teladan dari para Nabi dan Rasul serta akal dan hati kita yang
jernih.
Seseorang yang mampu mendayagunakan
ketiga potensi tersebut maka ia akan mampu menggapai apa yang ia cita-citakan
tersebut. Dengan wahyu ; al-Qur’anul Karim, maka ia akan terbimbing arah dan
jalan mana yang harus ditempuhnya. Karena Al-Qur’an itu sebagai petunjuk dan
penerang jalan bagi perjalanan hidup manusia. Bahkan Allah SWT juga menurunkan
nabi Muhammad SAW sebagai contoh
aplikasi nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan manusia sehari-hari.Allah SWT
berfirman :
“ Sungguh telah ada pada diri nabi Muhammad
SAW suri tauladan yang baik bagi kalian semua… “ ( QS Al-Ahzab : 21 )
Dengan akal fikiran dan hati yang
telah Allah SWT berikan kepada setiap manusia,maka diharapkan ia mampu memahami
langkah-langkah yang harus dilakukan kea rah yang lebih baik tentunya.
Dengan mendayagunakan ke tiga modal
tersebut, maka manusia harus segera menapaki kehidupannya, dan ada tiga syarat
agar keinginan/cita-cita/obsesi kita dalam mendapat Rahmat Allah SWT terpenuhi,
sebagaimana yang Allah SWT sampaikan di dalam Al-Qur’an :
“ sesungguhnya orang-orang yang beriman, dan
orang-orang yang Hijrah dan orang-orang yang berjuang di jalan Allah SWT mereka
itulah orang-orang yang mendapatkan Rahmat Allah SWT, dan sesungguhnya Allah maha
pengampun lagi maha penyayang “ ( QS Al-Baqoroh : 218)
Dari ayat tersebut diatas ada syarat
agar kita mampu menjemput Rahmat-Nya, :
Yang pertama, Aamanuu
yaitu yakin atau percaya. Seseorang yang akan berhasil dalam menggapai
obsesinya yang pertama dia harus yakin bahwa apa yang akan dilakukannya adalah
kebaikan maka ia akan berhasil.Keragu-raguan dalam hal menjalankan sebuah
pekerjaan maka sebagai tanda kegagalan. Maka dalam Hadits Qudsi dikatakan,
bahwa Allah SWT tergantung kepada prasangka hamba-Nya kepadanya. Kalau seseorang
tidak yakin dan ragu maka Allah SWT tidak akan menolong bagi hamba yang
terhadap dirinya sendiri saja tidak yakin.
Yang kedua, Haajaruu,
berhijrah, bergerak,pindah dari satu tempat ketempat yang lain yang lebih baik.
Keyakinan saja tidak cukup, harus ada gerak. Harus ada usaha.kalau hanya yakin
saja tanpa kita bekerja dan berusaha maka tidak ada hasil. Allah akan menilai
kita dari sejauh mana usaha yang kita lakukan, dan Allah SWT tidak merubah
nasib kita kecuali kita ada usaha untuk merubah nasib kita sendiri.
Yang ketiga, Jaahaduu,
berjuang, kesungguhan. Berusaha juga belum cukup kalau hanya berusahanya tidak
optimal. Yang dibutuhkan agar kita berhasil dalam menggapai rahmat Allah SWT
adalah usaha yang se optimal dan semaksimal mungkin yang kita sebut berjihad fi sabilillah.
Sebagai cerminan, seorang syekh Abdullah Azzam, yang pada waktu itu sebagai
seorang peserta dalam sebuah pelatihan. Diminta oleh panitia untuk berlari
memutari lapangan sekuat tenaga yang mereka punyai. Mulailah seluruh peserta berlari,
pada putaran yang ketiga ada berhenti karena tidak kuat, ada yang putaran ke
empat berhenti dan seterusnya.Tinggalah Syekh Abdullah Azzam seorang diri yang
terus berlari terseok-seok karena kelelahan.Seluruh peserta menyarankan agar
berhenti namun ia tetap berlari dan akhirnya ia pun roboh...pingsan. Setelah
sadar beliau ditanya oleh kawan-kawannya kenapa memaksakan diri hingga pingsan,
apa jawab beliau ” Kan perintahnya adalah berlarilah mengitari lapangan sampai sekuat
tenaga yang kalian punyai, nah ketika saya pingsan itulah tenaga saya yang
terakhir...” subhanallah,kesungguhan beliau yang luar biasa, terkadang
kita melakukan usaha atau pekerjaan sudah dianggap optimal dan maksimal padahal
kita sebenarnya belum melakukan apa-apa.
Marilah kita sambut rahmat Allah SWT
dengan modal yang telah Allah SWT berikan pada kita, dan laksanakan
syarat-syaratnya dengan baik maka kita akan berhasil dan Ampunan serta kasih
sayang Allah SWT akan menaungi kita,Aamiin ya Robbal ’alamin.
INFO :
Kamis, 20 Juni 2013
Program TUBAHAFAHAM ( Tulis Baca Hafal dan Faham Al Qur'an )
Program Tubahafaham ( Baca Tulis Hafal dan Faham Al Qur'an ) yang diselenggarakan Oleh Pesantren Qur'an Kayuwalang dan di dukung Oleh Rumah Qur'an Indonesia ( RQI ) dan di bimbing oleh Ustad Agus Talik S.Ag selaku Pembina Rumah Qur'an Indonesia dan Pengasuh Pondok Pesantren Qur'an Kayuwalang yang bertempat jl. kayuwalang Perjuangan majasem Kel. Karyamulya Kec. Kesambi Kota Cirebon
Langganan:
Postingan (Atom)